Jumat, 05 Juni 2009

RASA TAK BERBENTUK (Lupa Daratan)

Tuhan. . . Padamkanlah rasa yang ada di hatiku sebelum ia membakar seluruh tubuhku, hapuskanlah pikiranku sebelum ia mengendalikan otakku. Tenggelamkanlah jiwaku sebelum jiwaku memunculkan dirinya. Pudarkanlah cinta dan sayang ini sebelum ia mewarnai hari-hariku. Jahitlah mulutku sebelum ia bertutur, butakanlah aku sebelum aku melihatnya dan tulikanlah aku sebelum mendengarnya, lenyapkanlah panca inderaku ini untuknya karena jika semua itu tak terjadi, aku akan luluh lagi karenanya.
Perasaanku yang dulu kuat bagai batu untuknya kini telah menjadi lumpur yang sangat becek dibuatnya, lemah dan tak berarti. Aku berikan semua yang dikehendaki olehnya tapi kemudian setelah aku lumpuh, dia masih tega mengiris-irisku kemudian menikamku dengan kata-katanya, tak berartikah semua yang telah kuberikan untuknya.
Angin terlalu tinggi membawanya ke angkasa kini, tapi tak sadarkah ia bahwa ketika ia semakin tinggi dan kemudian ia terjatuh maka ia akan merasakan sakit yang amat sangat karena jatuh dari ketinggian langit tertinggi. Ia kini buta akan tanah yang telah membuatnya hidup, lupa akan air yang membuatnya tumbuh, lupa akan rasa yang telah memberinya kebahagiaan. Ia kini merasa mampu berpindah seenaknya dari satu hati ke hati yang lain dan melupakan kisah-kisah yang membuatnya sangat berarti dahulu. Apakah ia bagai patung yang tak memiliki rasa kini.
Matahari tak sehangat dahulu, ia pun yang dulu mulia kini lebih jahat dari segala mahluk. Rasa, jiwa, hati, mata, telinga, mulut ataupun lidahnya tak lagi menyinarkan kejujuran bahkan nafasnya pun tak harum lagi. Mengapa ia sangat berubah dari yang ku kenal dahulu, mengapa ia terlalu murah untuk mengumbar rasanya, mengapa ia terlalu mudah untuk dimiliki. Menyesallah sebelum penyesalan menjemputmu.
Mata ini terlalu perih untuk melihat kenyataan hari ini, telinga ini pun sakit mendengarkan cerita duka dunia ini, hati ini pun luka mengetahui rasa yang sebenarnya, semua gerakan lidah tertuju padanya. Tak tahukah dia bahwa musuh tak selamanya musuh dan sahabat tak selamanya abadi karena roh ini pun takkan selamanya melekat di raga ini.
Semua dibawah langit seakan dapat ditaklukkan olehmu, sesungguhnya jika engkau sadar bahwa hati-hati yang mengisi hatimu kini tenyata terlalu cepat melupakanmu setelah menghisap sari yang ada dihatimu, itu karena mereka cuma menginginkan kenikmatan yang kemudian menjadikanmu sampahnya dan itu terjadi karena mereka cuma mejadikanmu mainan dari rasa-rasa mereka. Tak pernahkah engkau sadari arti hadirku disini yang menawarkan sejuta warna hati, menyuguhkan kepercayaan cinta sejati, dan mencoba memberi kenyataan dari mimpi-mimpimu. Aku telah berusaha dengan amat sangat merubah diriku seperti keinginanmu demi kesenaganmu, tapi engkau justru mengangapku tak ada seperti asap, seakan tak berarti seperti bayangan, tak menghiraukanku bagai angin lalu.
Kita lahir dari dada Tuhan yang ditelurkan oleh jiwa alam, kita merangkak bersama, berjalan bersama tetapi saat engkau berlari meninggalkanku begitu jauh dan kemudian hari yang kejam itu pun memisahkan kita dan menyesatkanmu. Kenangan yang tertangkap di dinding hari yang telah kita lalui tak mampu menyadarkanmu akan cinta yang begitu tulus ini. Lupa, lupa dan lupakah engkau akan semua cerita dahulu, buta, buta dan butakah engkau akan kegemerlapan cinta-cinta sesaat dan hati-hati yang palsu serta rasa-rasa yang semu. Jubah impian belaka itu terlalu tinggi menutupi pandangan jiwamu.
Kata-katamu terlalu tajam merobek hatiku, sikapmu terlalu dalam menusuk jiwaku, cintamu terlalu mengoyak-ngoyak pikiranku. Engkau membuatku sakit tapi tak dapat membunuhku dan aku tak ingin engkau menjadi penguasa raga maupun pikiranku. Namun kesakitan parah itu merubahku kini serta engkau yang membuatku harus melupakanmu.
Walau hatiku mungkin takkan pernah lagi dapat engkau miliki tetapi aku akan selalu ada untukkmu. Yakinlah bahwa aku akan tetap menyayangimu dan takkan melupakan hati yang dahulu mengisi kebahagiaanku.
Melalui jendela langit aku ingin selalu melihatmu… melalui angin aku ingin selalu mendengarmu… melalui sinar matahari aku ingin selalu mengetahui rasamu… melalui bau hari aku ingin engkau tahu bahwa jiwaku masih milikmu karena Angin itu telah menerbangkan hatiku ke rasa yang lain.

< June, 06 2009 >
Original created by : Revan Aditya

Tidak ada komentar: